Karya : Novitasari (IX A)
Hey..... namaku
Novita kini aku berusia 14
tahun, aku sekolah diSMP N 1 CANGKRINGAN , aku kini kelas 3 smp, aku anak dari
nomer 2 bersaudara. Aku mempunyai sahabat-sahabat yang sangat menyayangiku,
mengharap hehe. Sahabat yang selalu mau
mengerti aku, sahabat yang selalu mensuport aku, sahabat yang selalu ada buat
aku, sahabat yang mau menolongku. Banyak deh, tak ada batasnya arti sahabat
buat aku.
Mereka
sahabatku dari aku TK hingga sekarang, makanya aku dan sahabat-sahabatku selalu
tak kan pernah bisa terpisahkan, amin. Mereka adalah Ika,Dyas,dan Silva. Silva
tipe orang yang sering mikirin cinta, Silva juga sering galau gara-gara mikirin
cowok. Aneh aneh aja hehe. Ika dan Dyas sih netral, jadinya enak dan nyenengin.
Pagi mulai
tiba, matahari mulai menampakan sinarnya, aku segera bergegas bangun untuk
sekolah. Lalu aku menuju ke kamar mandi untuk mandi, setelah selesai lalu aku
segera ke meja makan untuk sarapan. Jam telah menunjukan pukul 05.45 aku segera berpamitan kepada kedua
orang tuaku untuk sekolah. Aku segera ke garasi untuk mengambil sepedaku, ku
ayunkan sepedaku, ku buka pintu gerbang rumahku, ku jalani jalan penuh
bebatuan, ku lewati sawah penuh lumpur, pengorbanan yang luar biasa, ckck.
Sampai
disekolah menunjukkan pukul 06.45 ku segera menggayuh sepeda ke parkiran
sepeda, ku hampiri sahabat-sahabatku yang telah menantiku, PD banget, haha. “
Pagi kawan,” kataku. “Pagi juga nov,”sahut Dyas. “Yuk ke kelas.” ajakku. “Wow”, sahut
Silva “apanya yang wow” tanya Dias. “cowok itu” jawab Silva. “cowok itu memang
wow, sepektakuler, lengkaplah pokoknya,” batinku. Tak lama kemudian Ika
memotong angan-anganku. “ngelamunin apa Nov?,” tanyanya. “ bukan siapa-siapa,
yuk ke kelas, “ajakku “yuk.”
Pelajaran
pertama yang membimbing Pak sidik yaitu pelajaran matematika. Huft aku malah
gak konsentrasi mikirin cowok tadi terus, terus, dan terus. Apa ini yang
dinamakan cinta. Ku mulai menyayanginya, kini mulai ada benih-benih cinta yang
muncul. Tak terasa pelajaran matematika telah usai kini saatnya istirahat aku
tidak gabung sama sahabat-sahabatku karena mereka setelah istirahat prlajaran seni rupa, lalu aku jalan
sendiri menuju ruang musik, sambil aku membaca buku,”aduh” teriakku. “maaf maaf
aku tidak sengaja,” kata cowoknya. Ku bangun lalu ku lihat cowok itu dan
ternyata itu cowok yang tadi pagi. “Kau tak apa-apa” tanyanya. “Aku tidak
kenapa-kenapa,” jawabku. “ya udah sekali lagi aku mau minta maaf, dan namamu
siapa?” sahutnya. “Aku Novita” sahutku. “wow nama yang cantik seperti orangnya,”
katanya. “Uuuuuh...... bisa aja,” jawabku. “Heheeee.......” “Lha
ngomong-ngomong nama kamu siapa?” “Namaku Fano,” katanya. “Nama yang bagus”
“Thanks” “ udah dulu ya aku permisi dulu mau ke ruang musik dulu, sampai
bertemu kembali.” “Ok.” Aku segera berjalan ke ruang musik.
pelajaran
seni musik telah usai kini saatnya kembali ke kelas, sampai dikelas pastinya
langsung menghampiri sahabat-sahabatku. Mereka ku lihat sedang asik melukis
jadi ku putusin untuk tidak menceritakan soal tadi.
Ku duduk
di kursi dimana biasanya aku duduk, heeemm,, masih aja ada bayangan-bayangan
orang tadi di ingatanku. Kenapa begitu sulit aku untuk melupakan kenangan itu.
Kini
aku Cuma diam saja terus menerus, teringat olehnya. Tibs-tiba silva datang
kepadaku. “Nov, aku boleh tanya tidak?” “Ow boleh, silahkan Va.” “Nov tadi tuh aku bertemu sama cowok yang tadi
pagi, kelihatannya dia suka sama aku,” katanya. Seketika itu aku mulai cemburu.
Huhuuuuu, tapi tak lama kemudian aku lalu menjawabnya, “owh bagus dong,” kataku
agak jengkel. Bel telah berbunyi, tanda pelajaran telai usai aku segera ke
parkiran untuk menuju ke sepedaku. Tiba-tiba Fano datang,”Hay Nov,” ucapnya.
“Hey juga” jawabku.
Seketika
itu Silva datang kepadaku “dasar penghianat,” Ucapnya. Silva lalu pergi begitu
saja. “Silva aku bisa jelasin ke kamu Va,” teriakku. Namun Silva malah acuhkan
aku. Silva lari, menangis tersendu-sendu “udah Nov, jangan dikejar mungkin
Silva hanya butuh waktu untuk sekedar menenagkan diri,” ucap Fano.
‘Yaaa......... maybe,,,” jawabku. Lalu aku pergi meningalkan Fano begitu saja.,
mungkin Silva kecewa. Aku udah buat sahabat aku sendiri menangis. Kini aku
harus memilih antara “Cinta Atau Sahabat.” Aku harus minta maaf, aku harus
jelasin semua ucapanku.
Waktu
aku sampai rumah, ternyata sahabat-sahabatku telah sampai duluan dirumah aku
kecuali Silva. “Ya Allah Va, ternyata kamu beneran marah ya sama ak,” Batinku.
“Kawan, ternyata kalian ada disini,” kataku. “Apa-apaan sih Nov, kita kan
selalu ada buat kamu, kita tidak mungkin ningggalin kamu, apa lagi disaat kamu
terpuruk seperti ini,” kata Ika. Seketika itu aku langsung meneteskan air mata.
“Thanks ya teman,” kataku. Sahabatku lalu tersenyum dihadapanku.
“Ayo
Nov kita sama-sama ke rumahnya Silva,” ajak Dias. “Ayo” jawabku. Aku dan
sahabat-sahabatku lalu bergegas ke rumah Silva. Waktu sampai di depan rumah
Silva, Silva ternyata baru nyiram tanaman. Waktu Silva tau kalau aku
menemuinya, Silva malah pergi masuk rumah. “Silva........” teriakku. Aku lalu
lari dan meraih tangannya. “Lepasin,” katanya. Aku lalu memeluk Silva. “Va
maafin aku, aku tau aku salah, sekarang silahkan kamu sama Fano, aku tidak
masalah. Aku lebih memilih sahabat daripada cinta. Jika itu jodohku pasti akan
datang dengan sendirinya, toh kita kan masih anak sekolah belum saatnya kita
cinta cintaan. Lagi pula sahabat seperti kamu, tidak ada yang lain kecuali
kamu. Silva lalu melepaskan pelukan itu. “Yang bener Nov, makasih Nov, maaf
juga aku udah marah gini sama kamu, aku tidak bakalan sama Fano. Kamu bener
belum saatnya kita cinta-cintaan” jawab Silva. Nah gitu dong kan enak
dilihatnya kalau udah akur kayak gini.” sahut Ika
Semenjak
itu aku dan sahabat-sahabatku menjalin sebuah persahabatan yang sangat indah...
~TAMAT~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar